395 km


Memang rezeki Allah itu tidak kemana ya. Siang-siang bolong, iseng lihat jadwal kereta api Malang-Semarang, sembari melihat kalender. 5 April 2018, ketikku di kolom pencarian jadwal kereta. And yap there was a left seat to be ordered. Actually, I've planned this trip to Semarang since i was in my second semester, sekadar untuk menemui teman sekolahku daan sekadar untuk mengexplore tempat wisata disana, such as Kota Lama and Lawang Sewu.

Perjalanan dari Malang ke Semarang memakan waktu selama 8 jam 52 menit, perjalanan yang sangat lama bukan? So, I decided to bring 'Stasiun' milik Putu Wijaya untuk menemani perjalananku kali ini. Buku yang sangat pas, benakku. Bukan bukan, bukan pas karena isinya, cuma pas aja gitu sama judulnya. Because there was so many railway station that i've had to pass.

02.26, not my very first step aku menginjakkan kaki di bumi Semarang, but this was my very first trip to Semarang alone. Aku dijemput oleh teman-teman sekolahku, mereka mengendarai motor dari Semarang atas ke Semarang bawah yang kalau dianalogikan, Semarang atas berada di Batu, dan Semarang bawah berada di Malang.

Siang itu, Semarang menyambutku dengan hangat saking hangatnya, salah satu temanku berceloteh, 'Semarang tuh udah kayak neraka bocor, Nun. Panasnya ngga ketulungan.' Bisa diakui, Semarang memang cukup panas, bahkan meskipun aku berada di Semarang bagian atas, panasnya masih terasa. Tetapi ngga tahu kenapa, panasnya Semarang yang aku rasain, teralihkan dengan rindangnya jalanan. Rindangnya itu sama kayak Sagan-nya Jogja, dan kayak Idjen Boulevard-nya Malang. Ini sih salah satu bagian yang aku suka dari Semarang.

Kunjungan pertamaku adalah Grand Maerakaca. TMII versi Jawa Tengah nih, yang juga dilengkapi oleh wisata mangrove. 'Tempat ini emang jadi objek wisatanya Semarang, Nun. Tapi yang ngga Semarang-Semarang banget. Tempat yang Semarang banget tuh ya Kota Lama sama Lawang Sewu, udah itu aja.' tutur salah satu temanku. Kalau dipikir-pikir tempat wisata di Semarang itu memnag dikit, dan jarak tempuhnya itu jauh, memakan banyak waktu juga. Secara, Semarang itu luas banget.

My next visit was in Semawis, bisa dibilang ini wisata pecinan paling rame that i've ever visited. Banyak jajanan yang dijual disana, dari makanan khas Tionghoa sampai makanan nusantara, dari makanan yang mengandung babi sampai makanan yang halal. Ada satu jajanan yang menarik hati untuk dibeli, Es Kepal namanya. Ngga seperti es-es pada umumnya, es ini dikepal dengan ditambahi susu Milo yang mungkin sudah dilelehkan dulu. Enak, bikin nagih. This Kepal Ice only costs 30k, sedikit mahal, but nice to try, lah ya.

Di hari kedua, aku mengunjungi wisata yang kalau kata temen nih, wisata yang Semarang banget, dimana lagi kalau bukan di Kota Lama dan Lawang Sewu.

Pukul 09.00 tepat aku memulai perjalananku. Dari Semarang atas ke Semarang bawah, karena kebetulan Kota Lama dan Lawang Sewu letaknya di Semarang bawah. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1 jam, lama, ditemani dengan macetnya Semarang dan super duper panasnya Semarang. But as i said before, panasnya itu teralihkan dengan rindangnya Semarang.

My first visit on that day was in Kota Lama. Kota Lama, ikon Semarang yang so artsy banget. Banyak bangunan peninggalan kompeni, yang sangat sayang untuk tidak diabadikan dalam jepretan kamera. Hanya dua kata untuk tempat ini, instagram-able banget, hehe. Kota Lama ini dulunya menjadi pusat perdagangan di jamannya, tapi sekarang udah berubah fungsi, menjadi objek wisata.



Setelah takjub akan ke-artsy-an bangunan di Kota Lama, salah satu temanku mengajak untuk mencicipi restoran Jepang yang cukup terkenal sekadar untuk mengganjal perut yang sejak pagi belum terisi. Akan tetapi, setelah mencicipi makanan disana bukannya aku merasa kenyang, malahan aku merasa menyesal. Ada satu alasan mendasar yang membuatku tidak ingin mengunjungi restoran ini lagi, it's cost, bisa dibilang ini restoran yang sangat tidak cocok di kantongku, super duper mahal. Kalau boleh jujur, aku harus merogoh kocek sebesar 1 juta rupiah hanya untuk sekali brunch. Tapi tak apa, kalau kata temen nih, "Makan disini tuh biar kita bisa ngerasain makan makanan mahal ala orang-orang kaya, Nun. Jarang-jarang kan kita makan mahal" aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan perkataannya.

12.47. Lawang Sewu tidak seperti yang aku perkirakan. Sebelumnya, aku membayangkan bahwa Lawang Sewu itu terletak di sebuah gang, akan tetapi sebaliknya, Lawang Sewu justru terletak di jantung kota Semarang. We have to pay only 10.000 rupiah if we want to get into Lawang Sewu, it's cheap right?

At that time, i just realized that Lawang Sewu is a railway Museum and Semarang was the first city which has station in Indonesia. I was so kudet, dude. Sama halnya dengan Kota Lama, Lawang Sewu juga instagram-able banget. Banyak sudut-sudut yang bisa dijadikan objek foto.




Dan kunjunganku di Lawang Sewu menjadi kunjungan yang mengakhiri perjalananku di Semarang kali ini.

Semarang mengajariku banyak hal, harus pinter-pinter bersabar karena macetnya, karena luas wilayahnya yang kalau mau berkunjung dari satu tempat ke tempat lainnya memakan banyak waktu even tenaga, dsb. "Despite all the heat that you have, you are still have shade inside"









Komentar