Belajar

Pagi itu, aku dan teman-temanku bergegas menuju sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari rumah. Kami hendak bertanya kepada kepala sekolah, apakah kami bisa membantu mengajar atau mengisi penyuluhan hukum untuk anak-anak. Kebutulan hari itu hari pertama kami tiba di tempat kkn, karena tidak ingin nganggur, jadilah kami menawarkan diri untuk membantu mengajar. 

Sayangnya, niat baik kami ini belum bertemu tuannya. Kami tidak bisa membantu mengajar lantaran sekolah dasar sudah memasuki masa-masa liburan semester genap dan sudah ada agenda lain dari Tim KKN universitas lain. Kemudian, bapak kepala sekolah tersebut menyarankan kami untuk pergi ke SD 02, untuk menanyakan hal yang sama.

Sekolah dasar tersebut terletak di ujung gang, dekat dengan perbatasan desa. Hanya ada dua bangunan kecil—yang nampaknya hanya untuk ruang guru dan kelas— dan lapangan yang tidak terlalu besar. Kami memarkirkan motor, lalu menuju ruang guru untuk bertanya-tanya dan menyampaikan niat baik kami.

“Kecil banget yak sekolahnya, sepi lagi.” Celetuk salah satu teman. 

“Assalamualaikum.” Sapaku sambil mengetuk pintu. 

Kami disambut oleh seorang guru, Ibu Kaspiatun namanya. Setalah memperkenalkan diri dan menjelaskan niat kami, akhirnya pun niat kami disambut baik oleh ibu tersebut. Tetapi kami hanya diberi kesempatan mengajar satu hari saja. Satu hari saja tak apalah, setidaknya kami bisa membantu guru-guru disini. 

Sejenak aku memperhatikan papan informasi mengenai sekolah ini. Di papan, tertulis hanya 34 murid yang bersekolah disini. “Loh bu, disini memang 34 saja muridnya? Tidak ada lagi?” Tanyaku. “Iya mbak cuma segitu aja.”

“Disini itu istilahnya sekolah buangan mbak, kalau nggak ada yang keterima di SD 01 atau MI 01 ya orang-orang larinya kesini. Kalau ada yang nggak naik-naik kelas ya larinya kesini. Makanya muridnya disini dikit. Kelas 5 itu 5 orang, Kelas 3 itu ada 7 orang, yang paling kasian itu kelas 4 sekelas isinya cuma 3 orang.” 

“Wong disini itu sekolahnya gratis loh mbak, mereka seragam ngga bayar, buku juga ngga bayar. Kalau UN gitu buku detik-detik kita foto-copy-kan. Rata-rata disini anaknya orang yang ndak mampu tapi tetep pengen sekolah.” Imbuhnya.

Kita takjub mendengar cerita Ibu setengah baya itu. Ada perasaan saya yang tersentil ketika mendengarnya. Kondisi SD ini benar-benar jauh dari kata cukup. Tidak sebanding dengan SD 01 yang kita datangi, yang memiliki banyak ruang kelas, fasilitas memadai dan murid yang banyak pula. Nampaknya, saya yang harus banyak belajar dari guru-guru dan murid-mirid disini. Belajar untuk menerima kondisi dan belajar agar tak pernah patah arang dalam menuntut ilmu. 

“Hati-hati ya mbak besok pas ngajar, disini itu anaknya memel-memel, mendo-mendo. Harus ekstra sabar. Tapi meskipun begitu, saya seneng mbak. Anak-anak masih punya semangat dan gigih untuk belajar.” Tandasnya. 

Komentar